NDY

NDY

Jumat, 18 September 2015

Batu Kecil


Di postingan kali ini saya akan menceritakkan tentang hal yang berhubungan dengan cobaan yang diberikan oleh Allah.
mari kita simak teman-teman...

Suatu hari seorang pekerja di sebuah proyek bangunan naik ke atas tembok yang tinggi. Saat itu ia harus menyampaikan pesan kepada teman kerja nya yang berada di bawah. Pekerja yang berada di atas berteriak kepada temannya, tetapi temannya tidak bias mendengarkan karena suara disana terlalu bising oleh mesin-mesin dan suara orang-orang yang sedang bekerja, sehingga usaha teriakkanya sia-sia saja.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian teman yang ada dibawahnya ia mencoba melemparkan uang logam kebawah kedepan temannya. Temannya berhenti bekerja, lalu mengambil uang yang jatuh namun bekrja kembali. Pekerja yang ada di atas mencoba lagi, tetapi usaha nya yang kedua pun gagal. Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah ide. Ia mengambil sebuah batu kecil lalu melemparkannya kea rah orang yang berada di bawah. Batu itu tepat mengenai kepala temannya. Karena merasa kesakitan, temannya itu melihat ke atas, sekarang pekerja yang ada di atas dapat menyampaikan pesan untuk pekerja yang bearada di bawah.


Begitu juga dengan Allah SWT. Allah kadang-kadang mengguanakan cobaan-cobaan ringan agarkita menengadah dan mengingat kepadaNya. Seringkali Allah melimpahkan rahmat kepada kita, namun itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadanya. Karena itu kita agar kita selalu mengingat kepadanya, Allah sering menjatuhkan batu kecil kepada kita.
Batu kecil disini diartikan sebagai cobaan cobaan kecil yang Allah berikan kepada kita untuk selalu mengingatNya. Dan jangan sampai pula kita menunggu batu kecil dilemparkan oleh Allah agar kita mengingatNya.





nahh... teman-teman mungkin cuma ini yang bisa saya sampaikan. semoga bermanfaat..




Minggu, 23 Agustus 2015

Tugas 1

SANGKURIANG
 
Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang  anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu. Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.
Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.
Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembara.
Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan  memiliki kecantikan abadi.
Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya.  Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.
Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.
Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.
Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.
Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu.